Minggu, 07 Mei 2017

Hindari Kelumpuhan Data Center Akibat Kegagalan UPS Flywheel

Kegagalan UPS Flywheel dalam membangkitkan generator banyak menjadi penyebab kelumpuhan data center belakangan ini. Operator data center dituntut untuk membangun teknologi infrastruktur mereka sendiri bila tidak tersedia di pasaran atau ketika mereka merasa bisa membuat sesuatu menjadi lebih murah.

Hindari Downtime Akibat Kegagalan UPS Flywheel


Biaya Kegagalan UPS Flywheel Lebih Mahal


Salah satu teknologi harus dimaksudkan untuk menghindari prioritas yang salah letak. UPS Flywheel atau Switchgear membutuhkan modifikasi tersendiri. Masalah kegagalan UPS Flywheel telah menyebabkan kelumpuhan data center Delta musim panas lalu yang pada akhirnya menelan biaya sebesar hampir Rp. 2 Triliun. Para ahli telah melihat kegagalan jenis ini di data center yang telah mereka monitor selama karirnya.

Bagian dari teknologi yang harus dirancang operator data center untuk menghindari jenis pemadaman ini adalah firmware yang menentukan listrik switchgear apa yang harus dilakukan ketika sebuah data center kehilangan daya listrik. Firmware vendor yang baik akan memprioritaskan pada pencegahan kerusakan pada generator cadangan yang mahal untuk mencegah kelumpuhan total data pada center. Mungkin sebagian besar operator data center berskala besar akan lebih memilih untuk membeli peralatan seharga Rp. 13 Milyar daripada mempertaruhkan downtime yang biayanya dapat jauh lebih besar akibat kegagalan UPS Flywheel tersebut.

UPS Flywheel menunggu beberapa detik jika power listrik kembali ketika terjadi pemadaman listrik. Jka tidak, switchgear akan menyalakan Generator, sementara data center beroperasi pada energi yang tersimpan oleh sistem UPS FLywheel. Begitu generator stabil, switchgear menjadikannya sumber utama kekuatan untuk sistem TI.

Kegagalan UPS Flywhel "mengunci" generator, hal ini menyebabkan kelumpuhan data center pada perusahaan penerbangan tersebut. Kebanyakan switchgear UPS memang dirancang untuk dilakukan saat merasakan anomali tegangan utama baik di data center atau pada feeder utilitas masuk. Memasukkan generator hidup ke dalam rangkaian korsleting biasanya akan menggoreng generator, dan switchgear mengunci generator untuk menghindarinya.

Dalam kebanyakan kasus, kesalahan dapat berasal dari luar bangunan. Jadi skema ini tidak lain adalah penyebab pemadaman data center. Dalam kejadian langka ketika ada arus pendek di dalam data center, baik pemutus arus cabang terbuka dan server yang dimasukannya beralih ke sebuah Sumber daya sekunder, atau (jika kesalahan lebih tinggi pada sistem distribusi daya atau jika pemutus gagal dibuka) generator mungkin rusak jika tidak terkunci.

Tentunya kita akan memilih biaya di bawah Rp. 13 milyar dari pada risiko kehilangan 1.3 Triliun. Penghematan dalam biaya listrik tidak dapat menjadi prioritas yang tepat.

Kebijakan Dalam Memilih Colocation Center

Untuk menghindari kelumpuhan layanan operasional IT, perusahaan dapat menilai ulang infrastruktur IT mereka. Kebijakan dalam memilih colocation server harus menjadi prioritas bagi para C-Level sekarang ini.

Kebijakan ini termasuk untuk perusahaan perbankan yang selama ini sanggup mengadakan colocation DR mereka sendiri. Serangan cyber seperti mirai bot net DDoS dan ransomware dapat menyebar luas dan mempengaruhi seluruh data pada DRC mereka.

Perusahaan harus mengikuti praktik terbaik dalam strategi mitigasi bencana IT, yakni dengan menempatkan infrastruktur cadangan mereka pada lokasi yang benar-benar terpisah secara fisik, kepentingan dan virtual.

Selain itu, dalam memilih colocation server, para pimpinan perusahaan sebaiknya tidak terjebak pada pemahaman sesat, yakni lebih berpatokan pada biaya yang lebih murah. Biasanya data center yang memberikan harga colocation server lebih murah tidak dapat menjamin SLA. Dan ada kemungkinan mereka memakai UPS Flywheel yang dapat menyebabkan kelumpuhan data center.

Risiko yang dipertaruhkan akibat kurang bijaknya dalam memilih colocation server dapat menempatkan perusahaan anda para potensi kerugian yang jauh lebih besar ketimbang menggunakan data center yang dapat menjamin keberlangsungan operasional IT anda.

Rata-rata biaya downtine per menit menurut penelitian Emerson Power adalah sekitar Rp. 186 juta hingga Rp. 30 milyar. Dalam hal ini, para CIO dan CFO harus mulai menyelidiki potensi biaya yang dapat timbul akibat downtime tersebut dan mulai mempertimbangkan untuk mengalihkan cadangan infrastruktur IT pada penyedia data center Tier III.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar